Prof Klaus Schwab, Ekonom terkenal dunia asal
Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) yang mengenalkan
konsep Revolusi Industri 4.0. Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth
Industrial Revolution”, Prof Schawab (2017) menjelaskan revolusi industri 4.0
telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental. Berbeda dengan
revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki
skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru
yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi
semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang
mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru diantaranya (1) robot
kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), (2) teknologi nano, (3)
bioteknologi, dan (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti
bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D
Di Era Revolusi Industri 4.0 ini manusia semakin dimanjakan dengan
sebuah teknologi-teknologi yang sangat canggih dengan kecerdasan mesin yang sangat
luar biasa, banyak manusia saat ini melakukan segala kegiatan dengan
menggunakan teknologi, hampir semua kegiatan tidak lepas dari teknologi, dari
sini lah peran manusia juga bisa semakin tergantikan oleh teknologi.
Akan Tetapi pada Revolusi Industri keempat, menjadi lompatan besar bagi
sektor industri, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan
sepenuhnya. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai
nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital
guna mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik,”
paparnya.
Untuk itu, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama
dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era
Industry 4.0. Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem
Industry 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine
Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.
Menperin juga menyampaikan, semua negara masih mempelajari implementasi
sistem Industry 4.0, sehingga dengan penyiapan peta jalannya, Indonesia
berpeluang menjadi pemain kunci di Asia. “Kitamelihat banyak negara, baik yang
maju maupun berkembang, telah menyerap pergerakan ini keagenda nasional mereka
dalam rangka merevolusi strategi industrinya agar semakinberdaya saing global.
Dan, Indonesia siap untuk mengimplementasikan,” tegasnya.
Implementasi Industry 4.0 tidak hanya memiliki potensi luar biasa dalam
merombak aspek industri, bahkan juga mampu mengubah berbagai aspek dalam
kehidupan manusia. “Kita punya pasar dalam negeri yang kuat, dan punya banyak
talenta dari jumlah universitas yang ada, sehingga tersedianya pool of talent,”
kata Menperin.
Jadi, langkah dasar yang sudah diawali oleh Indonesia, yakni
meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui program link and
matchantara pendidikaan dengan industri. Upaya ini dilaksanakan secara sinergi
antara Kemenperin dengan kementerian dan lembaga terkait seperti Bappenas,
Kementerian BUMN, Kementerian Ketenagakerjaan, Kemeneterian Pendidikan dan
Kebudayaan, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
Satu hal yang sudah pasti bahwa Revolusi Industri 4.0 telah datang di
tengah-tengah kita dan kita tak mungkin lagi menolak atau menghindarinya.
Proses ini akan terus berjalan di tengah kemampuan atau bahkan ketidakmampuan
kita, hanya saja kita harus mempersiapkannya dari sekarang